SASTRA DAN PEMBERADABAN
Pada hari Rabu, 25 Februari 2009 kami menghadiri acara Diskusi Sastra Ke-16 ”Sastra dan Pemberadaban”. Diskusi tersebut bertempat di Bentara Budaya Jl. Palmerah Selatan 17 Jakarta yang dimulai pada jam 15.00 WIB. Diskusi tersebut menghadirkan pembicara-pembicara yang tidak asing lagi bagi penyuka dunia sastra yaitu: Thamrin Amal Tomagola (Sosiolog), Jakob Soemarjo (Pengamat Sastra), dan Putu Wijaya (Sastrawan)dengan moderator yaitu Radhar Panca Dahana.
Diskusi yang diselenggarakan oleh Bale Sastra Kecapi bekerjasama dengan Kompas dan Bentara Budaya ini merupakan salah satu diskusi yang sangat menarik. Diskusi tersebut terbuka untuk umum, khususnya bagi pecinta dan pembela sastra di tanah air. Kehadiran kami dalam diskusi tersebut bukanlah hal yang sia-sia.
Sebagaimana yang kita ketahui, sastra memberikan peradaban terhadap manusia. Sastra merupakan hasil karya buah budi manusia di beberapa dimensi yaitu masa lalu, sekarang dan masa depan. Tetapi menurut Putu Wijaya, pemberadaban sastra di Indonesia tidak berjalan dengan semestinya, malah bergerak mundur. Hal tersebut yang menjadi perhatiannya selama ini. Baginya, sebuah buku/teks bukanlah barang yang mati. Dia bisa hidup kalau pembacanya hidup, bahkan dapat menjadi harta karun (treasury). Maka dari itu, karya sastra adalah sebuah tesis di mana harus ada seseorang yang menjembatani dan menyampaikan kepada orang-orang yang “buta” akan sastra. Tetapi terkadang jembatan itu tidak terbentuk karena harus berperang dengan materi. Dengan kata lain, pemberadan sastra di Indonesia mengalami kemunduran.
Sedangkan Thamrin Amal Tomagola menilai, kepesimisan Putu Wijaya belumlah terbukti. Dia masih yakin bahwa sastra akan mengalami kemajuan apabila ditangani oleh sastrawan perempuan.. Maka dari itu, sastrawan perempuan merupakan aktor sastra yang paling berpotensial saat ini, sehingga dimungkinkan dapat menjadi transformator dalam mengangkat pemberadaban. Untuk itu, baik kiranya apabila sastra/prosa yang berkembang saat ini sebaiknya menyentuh hal-hal yang dirisaukan orang banyak ataupun isu-isu strategis yang sedang terjadi. Semoga sastra di masa depan akan jauh lebih baik sehingga cita-cita pemberadaban bukanlah hanya impian tetapi kenyataan yang dapat digenggam (Devina dan Sayono).
Halaman ini dilanjutkan oleh sub-halaman.