
PERPUSTAKAAN PRESIDEN


MEMPERTAHANKAN MASA LALU YANG MASIH BAIK
MENAMBAH DAN MEMBUAT YANG LEBIH BAIK
Tak dapat disangkal, para presiden Republik Indonesia [Sukarno, Syafruddin Prawiranegara, Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, SBY] adalah pribadi dari sedikit negarawan besar yang langka. Bukan saja pada geopolitik Asia, tetapi juga dunia. Ia merupakan politisi yang sangat kuat. Aroma kepemimpinannya masih tetap terasa walau sudah tidak menjabat presiden. Auranya masih tersebar di mana-mana.
Mereka—lebih komprehensif dari yang dipersangkakan orang—juga pemimpin rakyat yang punya banyak pikiran dan tindakan nyata dalam usaha memerdekakan rakyat dan menyejahterakannya sekaligus. Dalam hal kepemimpinan, model kepemimpinan yang diwariskan pada bangsa ini adalah kepemimpinan yang kuat, berkarakter, mendengar dan kerjakeras sambil menggalang kerjasama dengan lingkup internasional. Singkatnya, ia adalah pelaku besar dan pemikir besar Indonesia.
Sebagai mantan pemimpin yang matang, mereka mewariskan konsep kepemimpinan, stabilitas politik dan keamanan [strong state], dalam rangka memberikan kenyamanan umum bagi seluruh kegiatan produksi masyarakat. Dengan strong state, produktivitas dan kegairahan kerja bisa ditingkatkan serta kepastian menikmati hasilnya bisa diciptakan.
Pengaruh positifnya, seperti yang kita rasakan, adalah pertumbuhan dan akumulasi hasil kerja yang terjadi hampir serempak, bukan saja di berbagai golongan masyarakat, melainkan juga di daerah. Kendati masih banyak hal yang harus ditingkatkan, stabilitas politik dan keamanan itu seakan-akan berfungsi sebagai udara, dengan apa masyarakat Indonesia secara bersama (bukan individual) mempertahankan hidup dan mencapai cita-citanya.
Di atas segalanya—masa kepemimpinan—pastilah memiliki formula yang menjadi ciri khasnya. Dan, sebagai bangsa yang sedang berkembang, bertranformasi sekaligus bertransisi menuju negara modern yang demokratis, pengalaman dan “kelebihan” dari kepemimpinan tersebut tak bisa diabaikan. Sebaliknya, kita harus belajar tentang berbagai hal yang positif sekaligus konstruktif dari apa yang pernah diperbuatnya.
***
Ada tiga alasan mengapa kita perlu belajar dari warisan kepemimpinan mereka. Pertama, untuk menghindari salah paham terhadap apa yang telah dilakukannya di masa lalu. Kedua, sebagai bahan pelajaran bagi para pemimpin berikutnya. Ketiga, memudahkan para pengkaji [dalam maupun luar negeri] dalam menyusun riset tentang Indonesia. Tetapi ketiganya berada dalam naungan filosofi yang sama bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pemimpinnya. Sebab cara terbaik dalam menghargai pemimpinnya adalah belajar dari kebaikan sekaligus kesalahannya di masa lalu. Apa yang masih baik tentu saja harus dipertahankan dan dikembangkan. Apa yang salah tentu saja harus dilupakan dan tidak diulangi.
Sebagai salah satu ikhtiar agar pikiran-pikiran, jejak dan perbuatan mereka tidak hilang dan kemudian diperdebatkan tanpa data yang jelas, usaha menerbitkan, mendokumentasikan dan memperpustakaannya menjadi niscaya. Walaupun usaha ini juga sudah dibuat oleh perpustakaan nasional tetapi wujudnya sangat formal. Apa yang tersimpan di perpustakaan nasional kurang mewadahi sisi-sisi kemanusiaanya.
Karena itu, perpustakaan ini dibuat secara lebih manusiawi karena mengumpulkan semua data dan pikiran serta tindakan mereka sebagai manusia, kepala keluarga, kepala negara dan tokoh dunia. Bagaimana latarbelakang keluarganya, pendidikannya dan strategi berkomunikasi dalam membangun negara lebih ditonjolkan.
Agar gagasan, visi dan misi tersebut dapat dinikmati oleh banyak pihak maka kami buatkan perpustakaan besar yang berisi buku dan dokumentasi berjumlah banyak, sehingga rakyat luas dan masyarakat dunia dapat membaca dan mengenalinya secara lebih murah dan efesien.
Ingatlah pepatah, “kejahatan terbesar dari sebuah bangsa, tidaklah terletak pada seberapa banyak generasi baru melupakan masa lalunya. Melainkan pada kesengajaan kita dalam penghilangan kebaikan dan prestasi yang diwariskan.” Tanpa tekad dan kesadaran yang kuat mempertahankan dan membangun bangsa, sepertinya kita sedang menjadi bangsa yang “paling jahat.” Sebab, sengaja atau tidak, tindakan-tindakan kita sedang melupakan bahkan menghancurkan kerja dan prestasi dari masa lalu yang sebenarnya dapat jadi modal menuju keadaban berikutnyPara presiden kita, dengan demikian adalah aset sekaligus subyek hidup yang akan terus mengabdikan hidupnya demi tujuan mulia bangsa ini. Rakyat baginya tidak boleh menjadi objek kebodohan, kesakitan dan kemiskinan; tuna kuasa, tuna karya, tuna kerja, dan tuna nalar. Maka, dengan perpustakaan ini, kita akan belajar, bercermin dan berusaha meneladani apa yang baik dan melupakan apa yang buruk. Dus, hendaknya program dan kerjakeras ini menjadi perhatian kita semua.
Program-program
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, Perpustakaan Presiden memiliki beberapa program, yaitu:
Penerbitan, dimaksudkan sebagai usaha kliping, pencetakan, pengumpulan buku-buku kepemimpinan yang berhubungan langsung maupun tidak.
Publikasi, dimaksudkan sebagai upaya untuk mensosialisasikan gagasan kepada publik. Program ini diharapkan menjadi ujung tombak bagi perubahan alam pikir publik untuk kemudian secara kolektif melakukan perubahan yang konstruktif.
Kerjasama Internasional, adalah program yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dengan institusi yang sejenis baik dalam maupun luar negeri. Kerjasama luar negeri dilakukan dengan menghadiri seminar internasional, studi banding serta penelitian bersama dengan lembaga riset independen atau lembaga riset yang berafiliasi dengan perguruan tinggi dan pemerintah di dalam dan luar negeri.
Pelatihan, adalah program kerja yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan skill dalam berbagai bidang, baik dalam penelitian ataupun bidang-bidang lainnya. Sasaran pelatihan ini di samping untuk internal Perpustakaan Presiden, juga ditujukan kepada masyarakat baik secara khusus, maupun umum.
Perpustakaan Cyber, dimaksudkan sebagai usaha untuk mempublikasikan buku-buku melalui website sehingga khalayak umum dapat mendapatkan gambaran berupa resensi lengkap dari buku-buku tersebut.
Hakikat Lembaga
Perpustakaan Presiden adalah nama yang dipilih berkenaan dengan semangat menyelamatkan bangsa dari kehancuran [save the nation]. Kita tahu nama selalu berkenaan dengan imaji dan cita-cita para pendiri. Nama adalah simbol dan pembeda sekaligus ideologi. Karena itu, Perpustakaan Presiden akan menjadi organisasi bervisi kebangsaan dan bermisi kemanusiaan serta bertujuan kerakyatan.
Demikianlah niat ini kami buat sebagai acuan bagi pelaksanaan progam. Harapan kami, mudah-mudahan semua program tersebut dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, sebagai sumbangsih bagi negara dan bangsa serta para pemerhati Indonesia.
Sekretariat
Graha Nusantara
Jl. Mampang Prapatan IV/80 Jakarta Selatan
12790 Indonesia
Tel/Fax: +62-21-92677714/7990375
Hotline: +62-21-92677714
Mobile: +62-8179844142
Email: nusantaracom@yahoo.com
Website: http://www.nusantaracentre.com
Blog: www.nusantaracentre.wordpress.com
Halaman ini dilanjutkan oleh sub-halaman.